Tak dapat dipungkiri bahwa
seyogyanya setiap individu dan negara mengharapkan pendidikan ideal, lantas
pendidikan ideal seperti apa yang dimaksudkan dan diharapkan setiap
negara? Pendidikan ideal tersebut berupa
ketercukupan sarana dan prasarana dalam proses belajar dan mengajar juga
kerjasama yang baik antar pemateri dan penerima materi, sebagai mana pendidikan ideal yang di
paparkan Ibnu Khaldun pada zamannya meliputi materi dan kurikulum pendidikan,
pendidik, peserta didik, dan metode pengajaran dan pendidikan, ini semua
merupakan kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dan selalu jadi bahan
perbincangan, karna seyogyanya perbincangan mengenai pendidikan seolah tak
pernah mati termakan zaman, selalu jadi
topik pembicaraan baik dalam negara maju dan berkembang.
Adapun menurut Drs. Ilzamuddin Ma'mur. M.A
dalam bukunya "membangun budaya
literasi meretas komunitas global" Dijelaskan bahwasanya maju mundur
nya sebuah bangsa, demikian dikatakan
pakar pendidikan, bergantung pada pendidikan generasi mudanya, logika yang sama dapat dilanjutkan, maju
mundur nya generasi muda suatu bangsa dapat dilihat dari maju tidaknya lembaga
pendidikannya, maju tidak nya lembaga pendidikan antara lain dilihat dari mutu
tidaknya pendidikan tersebut, ini merupakan salah satu alasan mengapa Indonesia
masih dikatakan negara berkembang? Ya,
jawaban nya adalah pendidikan, karna
sebenarnya sampai saat ini negara kita masih jauh dengan tingkat pendidikan
yang bermutu, bila saja penelitian pendidikan ideal dan bermutu ini dilakukan
di Indonesia dan lembaga pertama yang dijadikan bahan penelitian bertempat di
beberapa kota besar bisa dikatakan bahwa pendidikan sudah setengah bermutu dan
ideal, namun jika penelitian dilakukan
dibeberapa desa dan pelosok negeri yang tampak jauh dari perkotaan dan tidak
terjamah pemerintah, tentu dengan tegas dikatakan bahwa pendidikan sangat
kurang ideal dan bermutu, mengapa
demikian? Karna keadilan pendidikan
hanya bagi seluruh rakyat kota dan bukan desa,
dimana menteri pendidikan yang sudah menawarkan dan menjabarkan
pendidikan di era revolusi Industri 4.0 agar dengan seharusnya masyarakat
pendidikan dan lembaga di Indonesia sudah siap menghadapi nya, namun apalah
daya masyarakat awam yang tinggal di pelosok negeri yang tak tersentuh digital
juga peralatan sekolah yang berbasis elektronik baik berupa komputer ataupun
media lainnya. Tentunya ini harus lebih
di perhatikan sejauh mana ke- idealan sistem pendidikan yang ada di Indonesia
dan kesiapan lembaga-lembaga di Indonesia dalam menghadapi kesetaraan
pendidikan yang harus di capai, dengan
keadaan yang benar-benar tidak sesuai harapan dan keinginan, sehingga ini akan menjadi masalah besar bagi
pendidik atau peserta didik di negara Indonesia dalam meningkatkan eksistensi
nya dalam pencapaian pembelajaran.
Maka dari itu dalam bingkai life long education merupakan hal yang
akrab kita dengar di telinga kita namun belum di hati kita sebagaimana sabda
Nabi Muhammad SAW: tuntutlah ilmu dari buaian sampai liang lahat. Ini merupakan tonggak ukur tanggung jawab
masyarakat terutama kaum muda yang bisa merubah generasi dan bangsa dalam versi
pendidikan untuk ikut serta membangun dan membantu problem solving dalam dunia
pendidikan yang di hadapi Indonesia.
Salah satu nya dengan menjadi
pemerhati pendidikan yang belum ideal di beberapa daerah di Indonesia dengan
ikut serta mengabdi, dan menghilangkan
citra negative ketidak idealan pendidikan di Indonesia terutama daerah-daerah
pelosok negeri yang belum terjamah dunia pendidikan yang ideal.
Karena dalam hal ini seluruh
masyarakat Indonesia mempunyai tanggung jawab yang sama dalam dunia
pendidikan, karna menjadi pemerhati
pendidikan di daerah pelosok bisa di lakukan oleh siapa saja, asal memiliki kode etik yang sama dalam
mewujudkan harapan bangsa dan negara,
namun alangkah lebih indahnya jika masyarakat muda Indonesia menjadi
garda terdepan dalam hal ini karena ini akan mempengaruhi sebagaimana idealnya
pendidikan yang sudah di dapatkan beberapa anak bangsa yang sudah berumur
dewasa dan sudah tidak di bangku sekolah,
selain banyak harapan yang di sematkan pada beberapa pemuda pemudi
bangsa yang menjadi pemerhati pendidikan di Indonesia ini juga merupakan
langkah awal dan gerbang untuk Indonesia lebih baik dan terus berkembang
mengejar keterbelakangan, mengingat pendidikan Indonesia yang belum ideal ini
sangat berdampak pada berbagai dunia pendidikan baik sains dan teknologi jika
di bandingkan dengan negara-negara lain terutama Asia.
Dalam upaya pertanggung jawaban
masyarakat perlu diketahui bahwa hampir setiap kali Perbincangkan mengenai
kualitas SDM dan pendidikan negara ini,
kita mempunyai deretan prestasi yang cukup memprihatinkan yang telah
bangsa kita raih sekitar satu dasawarsa terakhir ini, informasi dimuat dari harian
Fajar Banten 10 maret 2008, dilihat dari segi human development index, Indonesia menempati urutan ke 109 dari 174
negara, dari sudut daya saing, peringkat
Indonesia anjlok di urutan 41 diantara 46 negara tahun 96. Menjadi urutan ke 46
dari 47 negara yang di ukur pada 2001 dari sisi pengembangan antarnegara, Indonesia juga berada pada rangking ke 98 di
antara 187 negara, setara dengan Nepal,
dan Bangladesh, dan negara-negara Afrika
Tengah ( wafa, 1997: 27) ini semua
mengindikasikan betapa tertinggal nya pendidikan di negara Indonesia, bahkan di
bandingkan dengan negara jiran sekalipun.
Sesuatu yang seharusnya menjadi keprihatinan setiap anak bangsa dan
masyarakat, yakni keprihatinan yang
bergerak menuju aksi perbaikan sebagai bentuk pertanggungjawaban kita sebagai
warga bangsa, apalagi para elit penguasa
bangsa ini, mulai dari legislatif,
eksekutif, hingga yudikatif, yang menentukan, mendesain, menggerakkan dan
menilai perputaran roda pembangunan bangsa menuju pendidikan yang ideal untuk
Indonesia lebih baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar